"Terimakasih Atas Kunjungan Anda"

Selasa, 23 Oktober 2012

MAKALAH FILSAFAT ARISTOTELES


KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT, shalawat dan salam semoga dilimpahkan atas Nabi besar Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat dan sekalian umatnya yang bertaqwa.
Atas berkat rahmat dan hidayah Allah SWT, penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul FILSAFAT ARISTOTELES   ini dengan lancar tanpa halangan suatu apapun.
Selain itu, dalam proses penulisan makalah ini penulis merasa berhutang budi kepada berbagai pihak terutama kepada Dosen Pembimbing Noor Hayati, M.Ag yang telah memberikan bimbingan dan arahan dengan penuh sabar dan tulus ikhlas.
Atas segala bantuan tersebut, penulis tidak dapat membalas berupa apapun kecuali mengucapkan terima kasih seraya mengharapkan limpahan rahmat dari Allah SWT sehingga segala kebaikan itu mendapatkan pahala dari Allah SWT.
Akhirnya penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini tentu disana sini masih terdapat kelemahan atau pun kekurangan, maka penulis mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif dari pihak manapun demi perbaikan selanjutnya, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin

                                                                       
Pekalongan, 4 Oktober  2012



Penulis




BAB I
PENDAHULUAN

Manusia memulai berfilsafat ketika manusia itu sendiri mulai menyadari keberadaannya di dunia yang dihadapkan pada berbagai kenyataan yang tidak dapat di pahaminya yang hal ini memberikan suatu tanda tanya dalam diri manusia, seperti Kapan kehidupan di dunia ini di mulai? Adakah yang menciptakanya? Siapakah manusia? Bagaimana manusia dapat hidup? Walaupun pertanyaanya terlihat sederhana, tetapi tidak mudah untuk di jawab.
Melalui filsafat manusia di suruh untuk berfikir mendalam, menyeluruh dan kritis. Karena, pada hakekatnya manusia ingin menjawab segala persoalan yang melingkupi kehidupan manusia dan pembicaraan filsafat menjadi terbatas. Dalam rentang sejarah tidak sedikit manusia-manusia jenius mencoba menjelaskan persoalan-persoalan tersebut, pikiran-pikiran mereka sering kali bertentangan, radikal, bahkan tidak masuk akal. Seperti filsafat Aristoteles yang akan kita bahas dalam makalah ini.






















BAB II
PEMBAHASAN

Seorang filsuf besar dari yunani lahir di Stageria yang hidup pada tahun 384-322 sebelum masehi. Ayahnya yang bernama Nicomachus, beliau adalah seorang dokter di istana Amyntas III, Raja Macedonia. Pada saat Aristoteles berkelana ke Asia kecil. Ia menikah dengan Pythias, keponakan perempuan penguasa Atarneus. Namun pernikahanya tidak berlangsung lama, kemudian Aristoteles menikah lagi dengan Herpyllis, dan di karuniani seorang anak laki-laki yang di beri nama Nicomachus ( seperti nama ayahnya ).
Aristoteles belajar pada akademik Plato selama 20 tahun, seorang murid dan lawan Plato. Dari situlah Aristoteles menemukan pemikiran-pemikiran diantaranya pemikiran yakni tentang logika, negara, metafisika, etika, pengetahuan dan ontologi.[1]

A.     Logika
Aristoteles diangap sebagai Bapak logika, karena dialah orang yang pertama kali dengan sistematik menyusun kaidah-kaidah berfikir yang valid ( syah ). Berfikir logis sebelum masa Aristoteles memang sudah dilakukan orang, tetapi sifatnya masih alami ( natural ), untuk hal-hal yang sederhana.[2]
Untuk hal-hal yang rumit masih di perlukan adanya suatu asas berfikir yang maton ( devinisi ) yang dapat di jadikan ukuran bagi benar atau salahnya suatu pernyataan. Untuk itulah Aristoteles menyusun asas dan kaidah berfikir yang sekarang di kenal dengan nama logika formil. Di sebut logika formil karena logika itu menyangkut kaidah berfikir benar karena bentuknya. Sering juga di sebut logika tradisional, karena nantinya berkembang apa yang di sebut logika bermoderen. Inti ajaran logikanya ialah pada cara menarik kesimpulan dengan suatu cara yang di sebut silogisme. Yaitu menarik kesimpulan dari kebenaran umum untuk hal-hal yang sifatnya khusus.contoh yang kalsik silogisme sbb:
1.      Semua orang fana
2.      Aristoteles adalah orang
3.      Aristoteles adalah fana
Kesimpulan bahwa Aristoteles adalah fana, ditarik dari kebenaran yang sifatnya umum yaitu bahwa semua orang adalah fana, padahal jelas bahwa aristoteles adalah jenis orang.
Menarik kesimpulan menurutnya dapat dilakukan dengan dua jalan. Pertama dengan jalan silogisme, jalan ini disebut juga apodity atau sekarang lazim disebut deduksi. Jalan kedua adalah epagogi, yang sekarang disebut induksi, yaitu menarik kesimpulan umum dari kenyataan-kenyataan khusus.[3]
Aristoteles juga berhasil menyusun pengertian yang ada menjadi sepuluh macam yang disebut kategori yaitu:
1. Substansi (diri), misalnya : manusia, rumah.
2. Kwantita (jumlah), misalnya : satu dua tiga.
3. Kwalita (sifat), misalnya : putih pandai tinggi.
4. relasi (hubungan), misalnya : A anak B
5. Volume (tempat), misalnya :  di toko di rumah
6. tempos (waktu), misalnya : kemarin sekarang nanti besok
7. situasi (sikap), misalnya : duduk berdiri lari jalan
8. status (keadaan), misalnya : guru pengasuh lurah
9. aksi (tindakan), misalnya : membaca menulis membuat
10. passiva (penderita), misalnya : tepotong tergilas
Dari macam kesimpulan kategori diatas, substansi lah yang menjadi pokoknya. Kesepuluh kategori diatas meliputi keseluruhan hubungan. Hal itu dapat dijelaskan sebagai berikut. Setiap sesuatu pastilah merupakan zat sustansi,yang terdiri atas sekian banyak kwantitas , mempunyai tanda atau ciri kwalitas, tak lepas dai cakupan waktu tempo, mempunyai sangkutpaut dengan lainnya relasi, mempunyai kedudukan tertentu status, senantiasa berbuat aksi melahirkan renten yang lain passiva.


B.     NEGARA
Menurut aristoteles, manusia pada dasarnya mempunyai bakat moral, tetapi itu hanya dapat dikembangkan dalam hubungannya dengan orang lain. Ia melakukan itu dengan perkawinan, mendirikan keluarga dan akhirnya dlam negara. Manusia adalah Zoon Politikea (makhluk sosial). Negara tujuannya untuk mencapai keselamatan bagi semua warga negaranya.
Afisika adalah mendidik rakyat agar berpendirian tetap, berbudi pekerti baik serta pandai mencapai yang sebaik baiknya.[4]
Aristoteles mengemukakan tiga bentuk negara yaitu:
  1. Monarchi yaitu sistem pemerintahan kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja.
  2. Aristokrasi
  3. Politea yaitu pemerintahan berdasarkan kekuasaan seluruh rakyat (demokrasi).
Ketiga bentuk sistem pemerintahan diatas dapat dibelokkan ke arah yang buruk. Sistem pemerintahan monarchi bisa menjadi sistem pemerintahan tirani (pemerintahan oleh pengusa yang dzalim ) ; . Sistem pemerintahan aristokrasi bisa menjadi oligarki (pemerintahan oleh segelintir orang) ; kekuasaan politea bisa jadi anarki. Menurut aristoteles, kombinasi antara aristrokasi dengan demokrasi adalah sebaik-baiknya.

C.     METAFISIKA
Metafisika secara umum ialah suatu pembahasan filsafati yang komprehensif mengenai seluruh realitas atau tentang sesuatu yang ada.
Bila orang-orang sofif banyak yang menganggap manusia tidak akan mampu memperoleh kebenaran, Aristoteles dalam metaphysics menyatakan bahwa manusia dapat mencapai kebenaren (mayer:152.) salah satu teori metefisika aristoteles yang pentinh ialah pendapatnya yang menyatakan bahwa matter (barang) dan form (bentuk) itu bersatu, mater memberikan substansi sesuatu, form memberikan pembungusnya. Setiap objek terdiri atas matter dan form, bagi plato mattwr dan form berada sendiri-sendiri.ia juga berpendapat bahwa matter itu potensial dan form itu aktualitas.
Namun,ada substansi yang murni form, tanpa potentialty. Jadi tanpa matter, yaitu Tuhan. Aristoteles percaya adanya tuhan. Bukti adanya Tuhan menurutnya adalah Tuhan sebagai penyabab gerak (a fish cause of motion).
Tuhan itu menurut aristoteles berhubungan dengan dirinya sendiri. Ia tidak berhubungan dengan (tidak memperdulikan) alam ini. Ia bukan pesona. Ia tidak memperhatikan do’a dan keinginan manusia. Dalam mencintai Tuhan, kita tidak usah mengharap ia mencintai kita. Ia adalah kesempurnaan tertinggi, dan kita mencontoh kesana untuk perbuatan dan pikiran-pikiran kita (mayer:159).[5]

D.    ETIKA
Etika adalah suatu ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruknya, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia kepada manusia lainnya, menyatakan tujuan yang harus dituju oleh manusia didalam perbuatan mereka dan menunjukkan jalan untuk melakukan apa yang harus diperbuat.[6]
      Tujuan etika ialah mencapai kebahgiaan sebagai barang tertinggi dalam penghidupan. Tugas dari pada etika ialah mendidik kemauan manusia memiliki sikap yang pantas dalam segala perbuatan. Kebaikkan letaknya ditengah-tengah antara dua ujung yang paling jauh. Misalnya berani adalah antara pengecut dan nekat, dermawan antarak.ikir dan pemboros, rendah hati letaknya antara jiwa budak dan sombong. Maka agar pandangan yang sehat yaitu budi dan tahu mempengaruhi sikap manusia, perlulah manusia pandai menguasai diri. Orang yang dapat menguasai diri tidak akan terombang-ambing oleh hawa nafsu, tidak akan tertarik oleh kemewah-mewahan.[7]
Disamping etika mengambil jalan tengah ada tiga hal yang perlu dipenuhi untuk mencapai kebahagiaan hidup yakni :
  1. Manusia harus memiliki harta secukupnya, supaya hidupnya terpelihara.
  2. Manusia harus memiliki rasa persahabatan
  3. Manusia harus memiliki keadilan.
Keadilan dan persahabatan adalah budi yang menjadi dasar hidup bersama dalam hidup bersama dalam keluarga dan Negara.[8]

E.     PENGETAHUAN
Pada Aristoteles kita menyaksikan bahwa pemikiran filsafat lebih maju,dasar-dasar sains diletakkan. Kuasa akal mulai dibatasi, ada kebenaran yang umum, jadi tidak semua kebenaran relatif. Sains dapat dipegang sebagian dan diperselisihkan sebagian. Seluruh alam merupakan suatu organisme besar, disusun dan digerakkan pertama oleh tuhan, menjadi satu kesatuan menurut tertentu.[9]

F.     ONTOLOGI
Menurut Aristoteles ontologi pada dasarnya di maksudkan untuk mencari makna ada dan struktur umum yang terdapat pada ada, struktur yang dinamakan kategori dan susunan ada. Akan tetapi hasil pencarian Aristoteles menunjukkan bahwa pertanyaan mengenai makna ada membawa kita pada penghargaan terhadap keajaiban eksistensi manusia, sedangkan studi mengenai kategori membawa pada sebab pertama asal usul dari segala sesuatu ( Tuhan ). Tidak berlebihan jika di katakan bahwa motif yang sesungguhnya dalam studi mengenai ontologi adalah jastifikasi atau evokasi terhadap agama, di samping jastifikasi atas pengetahuan dan emosi etis. [10]








































BAB III

PENUTUP


Aristoteles menemukan pemikiran-pemikiran, diantara pemikirannya itu antara lain tentang logika, negara, metafisika, etika, pengetahuan, dan ontologi. Aristoteles dianggap sebagai bapak logika, karena dialah orang yang pertama kali dengan sistematik menyusun kaidah-kaidah berfikir yang valid (syah).
Menurut Aristoteles, manusia pada dasarnya mempunyai bakat moral, tetapi itu hanya dapat dikembangkan dalam hubungannya dengan orang lain. Metafisika secara umum merupakan suatu pembahasan filasafi yang komprehensif mengenai seluruh realitas atau tentang sesuatu yang ada.
Pendapat kami setuju dengan pemikiran Aristoteles tentang filsafat, didalam berfilsafat beliau menggunakan logika, berbeda dengan Plato yang tertarik pada pengethuan kealaman dalam filsafatnya, dan ia mementingkan observasi. Aristoteles juga percaya adanya Tuhan, bukti adanya tuhan menurutnya adalah tuhan sebagai penyebab penggerak.

















                                             DAFTAR PUSTAKA

Tafsir, Ahmad. 1990. Filsafat Umum, Bandung: PT.Remaja              Rosdakarya
Khanafie, Imam. 2006. Filsafat Islam, Pekalongan: Stain Press
Skoot,Louis._______. Pengantar Filsafat, ______
Fearn, Nicholas. 2002. Cara Mudah berfilsafat. Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA.
Abidin, Zaenal.2011. Penagntar Filsafat Barat. Jakarta : Rajagrafindo Persada.


[1] Nicholas fearn, cara mudah berfilsafat, (Yogyakarta:AR-RUZZ MEDIA, 2002),  hlm 83
[2] Skott Luis, pengantar filsafat, hlm 41-42
[3] Ibid, hlm 42-43
[4] Ibit, hlm 40
[5] Ahmad Tafsir, Filsafat umum, (Bandung:PT.Remaja Rosdakarya, 1990), hlm 61
[6] Imam Hanafi, Filsafat Islam, (Pekalongan:STAINpers,2006), hlm 93
[7] Ibid, hlm 39-40
[8] Ibid, hlm 40
[9] Ahmad Tafsir, Filsafat umum, (Bandung:PT.Remaja Rusdakarya, 1990), hlm 61
[10] Zainal Abidin, Pengantar Filsafat Barat, (Jakarta:PT.Rajagrafindo Persada, 2011)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar