Kumpulan Makalah

Blog ini berisi kumpulan makalah

Makalah Tafsir Tarbawi (Surat Al-Imran Ayat 18 - Kedudukan Orang Berilmu)



Makalah Tafsir Tarbawi (Surat Al-Imran Ayat 18 - Kedudukan Orang Berilmu)

Makalah Tafsir Tarbawi (Surat Al-Imran Ayat 18 - Kedudukan Orang Berilmu)

Baca Makalah Lain :


PEMBAHASAN

A. Kedudukan Orang Berilmu

QS. Ali Imran ayat 18

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيم (١٨)

Artinya: “Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

B. Penjelasan Tafsir

Tafsir Al-Maraghi

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ

Allah SWT menjelaskan tentang wahdaniyat Allah, dengan menegakkan bukti-bukti kejadian yang berada di cakrawala luas, dalam diri mereka, dan menurunkan ayat-ayat tasyri’ yang mencerminkan hal tersebut. Para malaikat memberitakan kepada para Rasul tentang hal ini, kemudian mereka menyaksikan dengan kesaksian yang diperkuat ilmu darury. Hal ini menurut para Nabi lebih kuat dari semua keyakinan. Orang-orang yang berilmu telah memberitakan tentang kesaksian ini, menjelaskan dan menyaksikannya dengan kesaksian yang disertai dalil dan bukti. Sebab, orang yang mengetahui sesuatu tidak membutuhkan hujjah lagi untuk mengetahuinya.

Makna Al-Qistu, artinya dengan keadilan dalam akidah. Ketauhidan adalah pertengahan antara inkar dan syirik terhadap Tuhan. Berlaku adil dalam hal ibadah, akhlak dan amal adalah adanya keseimbangan antara kekuatan rohaniyah dan jasmaniyah. Sebagai perwujudannya adalah adalah berlaku syukur dengan menjalankan shalat dan dan beribadah lainnya guna meningkatkan rohani, membersihkan jiwa dan memperbolehkan dirinya hal-hal yang banyak dari kebaikan (rizki), untuk memelihara dan mengurus badan. Juga berlaku adil dalam melaksanakan hukum-hukum-Nya, seperti firman Allah:

اِنَّ اللهَ يَأْ مُرُ بِالعَدْ لِ وَاْلاِحْسَانِ

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan....” (An-Nahl: 90)
          
Allah SWT telah menjadikan sunnah penciptaan ini berdasarkan asas keadilan. Karenanya siapa saja memikirkan sunnah dan tatanan yang teliti ini akan tampak pada dirinya keadilan Allah dalam bentuk yang paling sempurna dan jelas.
          
Kekuasaan Allah SWT yang berdasarkan keadilan, semuanya merupakanbukti kebenaran kesaksian-Nya. Sebab, adanya kesatuan tatanan (sistem) alam semesta ini menunjukkan kesatuan penatanya (Penciptanya).
          
Sifat Perkasa mengisyaratkan pada kesempurnaan kekuasaan dan sifat kebijaksanaan mengisyaratkan adanya kesempurnaan pengetahuan. Kekuasaan ini tidaklah sempurna kecuali jika menyendiri dan bebas. Dan keadilah itu tidaklah sempurna kecuali jika meliputi semua kemaslahatan dan kondisi. Maka, yang bersifat seperti itu tidak ada seorang pun yang bisa mengalahkan terhadap apa yang telah ia tegakkan, yakni sunnah keadilan dan tidak ada sesuatu pun dari penciptaan yang bisa keluar dari kebijaksanaan yang sempurna itu. 



a. Tafsir Al-Azhar

"Allah telah menjelaskan bahwa tiada Tuhan selain Dia."(pangkal ayat 18).Syahida diartikan menjelaskan. Dengan segala amal ciptaanNya ini, pada langit dan bumi, pada lautan dan daratan, pada tumbuh-tumbuhan dan binatang, dan segala semat-­semesta, Tuhan Allah telah menjelaskan bahwa hanya Dia yang Tuhan, hanya Dia yang mengatur. Maka segala yang ada ini adalah penjelasan atau kesaksian dari Tuhan, menunjukkan bahwa tiada Tuhan melainkan Allah."Demikianpun malaikat"dalam keadaan mereka yang ghaib itu; semuanya telah menyaksikan, telah memberikan syahadah bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah. Sebab Malaikat adalah sesuatu kekuatan yang telah diperintahkan oleh Tuhan melaksanakan perintahNya, dan taat patuh setialah mereka menjalankan perintah itu. Kita tidak dapat melihat malaikat dalam bentuk rupanya yang asli, tetapi kita dapat merasakan adanya. Di antara malaikat itu ialah Jibril yang diperintahkan Tuhan menyampaikan wahyu kepada Nabi kita Muhammad saw dan wahyu itu telah tercatat menjadi al-Qur'an dan al-Qur'an telah terkumpul menjadi mushhaf. Oleh sebab itu di dalam tangan kita sendiri kita telah mendapat salah satu bekas syahadah dari malaikat.

"Danorang-orang yang berilmu"pun telah menyampaikan syahadahnya pula, bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah. Bertambah mendalam ilmu, bertambah menjadi kesaksianlah dia bahwa alam ini ada bertuhan dan Tuhan itu hanya satu, yaitu Allah dan tidak ada Tuhan yang lain, sebab yang lain adalah makhlukNya belaka. "Bahwa Dia berdiri dengan keadilan", yakni setelah Allah menyaksikan dengan qudrat-iradatNya, dan malaikat menyaksikan dengan ketaatannya, dan manusia yang berilmu menyaksikan dengan penyelidikan akalnya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah, maka timbul pulalah kesaksian bahwa Tuhan Allah itu berdiri dengan keadilan. Bahwa Tuhan mencipta alam dengan perseimbangan dan Tuhan menurunkan perintahNya dengan adil, serta seimbang.

Adil ciptaan-Nya atas seluruh alam, sehingga manusia berjalan dengan teratur, tidak lain adalah karena adil pertimbangannya. Adil pula perintah dan syariat yang diturunkan-Nya, sehingga seimbang dunia dengan akhirat, rohani dengan jasmani. Kata qisthi mengandung akan maksud adil, seimbang, setimbang; semuanya bisa kita dapati di mana-mana dengan teropong ilmu pengetahuan. 

"Tidaklah ada Tuhan selain Dia. Maha gagah lagi Bijaksana."(ujung ayat 18).

Hendaklah menarik perhatian kita tentang kedudukan mulia yang diberikan Tuhan kepada Ulil-ilmi, yaitu orang-orang yang mempunyai ilmu di dalam ayat ini. Setelah Tuhan menyatakan kesaksianNya yang tertinggi sekali, bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan kesaksian itu datang dari Allah sendiri, maka Tuhan pun menyatakan pula bahwa kesaksian tertinggi itupun diberikan oleh malaikat. Setelah itu kesaksian itupun diberikan pula oleh orang-orang yang berilmu. Artinya, tiap-tiap orang yang berilmu, yaitu orang-orang yang menyediakan akal dan pikirannya buat menyelidiki keadaan alam ini, baik di bumi ataupun di langit, di laut dan di darat, di binatang dan di tumbuh-tumbuhan, niscaya manusia itu akhirnya akan sampai juga, tidak dapat tidak, kepada kesaksian yang murni, bahwa memang tidak ada Tuhan melainkan Allah. Itulah pula sebabnya maka di dalam surat Fathir (surat 35 ayat 28) tersebut, bahwa yang bisa merasai takut kepada Allah itu hanyalah ulama, yaitu ahli-ahli ilmu pengetahuan.

Imam Ghazali di dalam kitab al-Ilmi dan di dalam kitabnyaIhya Ulumuddin telah memahkotai karangannya itu ketika memuji martabat ilmu bahwa ahli ilmu yang sejati telah diangkat Tuhan dengan ayat ini kepada martabat yang tinggi sekali, yaitu ke dekat Allah dan ke dekat malaikat.

Itulah kesan yang timbul kembali, meyakinkan kesan yang pertama tadi demi setelah memperhatikan pendirian Tuhan Al­lah dengan keadilan itu. Pada dua nama, Aziz dan Hakim, gagah dan bijaksana, terdapat lagi keadilan. Tuhan Allah itu Gagah Perkasa, hukum-Nya keras, teguh dan penuh disiplin. Tetapi dalam kegagah-perkasaan itu, diimbangiNya lagi dengan sifatNya yang lain, yaitu Bijaksana. Sehingga tidak pernah Allah berlaku sewenang-wenang karena kegagah-perkasaanNya dan tidak pernah pula bersikap lemah karena kebijaksanaanNya. Di antara gagah dan bijaksana itulah terletak keadilan. 

b. Tafsir Al-Mishbah

Kata ( شَهِدَ)syahida yang diatas diterjemahkan dengan menyaksikan, mengandung banyak arti, antara melihat, megetahui, menghadiri, dan menyaksikan, baik dengan mata kepala maupun dengan mata hati. Seorang saksi adalah yang menyampaikan kesaksian di pengadilan atas dasar pengetahuan yang diperolehnya, kesaksian mata atau hati. Dari sini kata menyaksikan di atas dipahami dalam arti menjelaskan dan menerangkan kepada seluruh makhluk.

Allah menyaksikan bahwa tiada Tuhan melainkan Dia.Kesaksian itu merupakan kesaksian diri-Nya terhadap diri-Nya. Kesaksian yang sangat kukuh untuk meyakinkan semua pihak tentang kewajaran-Nya untuk disembah dan diandalkan.

Allah menyaksikan diri-Nya Maha Esa, Tiada Tuhan selain Dia. Keesaan itu pun disaksikan oleh para malaikat dan orang-orang yang berilmu, dan masing-masing; yakni Allah, malaikat, dan orang-orang yang berpengetahuan, secara berdiri sendiri menegaskan bahwa kesaksian yang mereka lakukan itu adalahberdasarkan keadilan. Makna ini yang dipahami oleh sementara ulama sebagai arti (قَائِمًا بِالْقِسْطِ) qa’iman bi al-qisth, yang redaksinya berbentuk tunggal. Tentu saja tidak menunjuk kepada Allah, malaikat, dan orang-orang yang berilmu; ketiganya sekaligus. Ada juga yang menjadikan kata qa’im bi al-qisthitu sebagai penjelasan tentang keadaan Allah SWT, dalam arti tidak ada yang dapat menyaksikan Allah dengan penyaksian yang adil, yang sesuai dengan keagungan dan keesaan-Nya kecuali Allah sendiri, karena hanya Allah yang mengetahui secara sempurna siapa Allah. “Ketuhanan adalah sesuatu yang hanya dimiliki oleh Allah, maka tidak akan ada satupun yang mengenal-Nya kecuali diri-Nya sendiri.

Allah Qa’iman bi al-qisth, menegakkan keadilan yang memuaskan semua pihak. Dia yang menciptakan mereka dan menganugerahkan aneka anugerah. Jika ini diberi kelebihan rezeki materi, maka ada rezeki yang lain yang tidak diberikannya.

Setelah menegaskan bahwa Dia melaksanakan segala sesuatu dialam raya ini berdasar keadilan yang menyenangkan semua pihak, maka kesaksian terdahulu diulangi sekali lagi,Tiada Tuhan melainkan Dia. Hanya saja kalau kesaksian pertama bersifat kesaksian ilmiah yang berdasarkan dalil-dalil yang tak terbantah, maka kali kedua ini adalah kesaksian faktual yang dilihat dalam kenyataan oleh Allah, para malaikat dan orang-orang yang berpengetahuan. Itu terlaksana secara faktual, karenaDia Yang Maha Perkasa, sehingga tidak satupun yang dapat menghalangi atau membatalkan kehendak-Nya; lagi Maha Bijaksana, sehingga segala sesuatu ditempatkan pada tempat yang wajar. 





DAFTAR PUSTAKA

Al-Maraghi, Ahmad Mustafa. 1987. Tafsir Al-Maraghi. Semarang: PT. Karya Toha Putra.

Hamka. 2003. Tafsir Al Azhar Juz III (Edisi Revisi). Jakarta: Pustaka Panjimas.

Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Quran. Jakarta: Lentera Hati.




Baca Makalah Lain :






Bagikan :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "Makalah Tafsir Tarbawi (Surat Al-Imran Ayat 18 - Kedudukan Orang Berilmu)"

 
Template By Kunci Dunia
Back To Top